Kenali Lebih Jauh tentang Intoleransi Laktosa pada Anak

Kenali Lebih Jauh tentang Saat badan cuman menghasilkan sedikit enzim laktase, karena itu laktosa tidak bisa diserap usus kecil dan akan masuk di usus besar.

Di usus besar, laktosa akan difermentasi jadi gas dan asam. Perihal ini pula yang selanjutnya memacu tanda-tanda intoleransi laktosa, seperti diare, muntah, ngilu perut, perut kembung, dan kram perut.

Tanda-tanda intoleransi laktosa umumnya akan nampak dalam 30 menit sesudah konsumsi produk yang memiliki kandungan laktosa. Makin banyak laktosa yang dimakan, akan makin kronis tanda-tanda yang dirasa oleh pasien intoleransi laktosa.

Langkah Pastikan Sang Kecil Alami Intoleransi Laktosa
Bila menyaksikan tanda-tanda intoleransi laktosa pada Sang Kecil, Bunda dianjurkan tidak untuk memberi susu atau produk buatan susu padanya sepanjang lebih kurang dua minggu, untuk menyaksikan apa tanda-tandanya lebih baik. Kenali Lebih Jauh tentang

Sesudah dua minggu, Bunda dapat memberi kembali produk susu ke Sang Kecil dengan jumlah sedikit. Bila tanda-tanda intoleransi laktosa kembali tampil, cepatlah kontrol Sang Kecil ke dokter anak.
Untuk mengenali apa anak betul-betul alami intoleransi laktosa, dokter akan lakukan test kandungan hidrogen. Dalam test ini, dokter akan minta anak untuk konsumsi minuman dengan kandungan laktosa tinggi. Kemudian, dokter akan minta anak untuk tiup tabung buat ambil contoh napas.
Bila kandungan hidrogen dalam napas tinggi, karena itu dapat ditegaskan jika anak mempunyai intoleransi laktosa.
Langkah-Langkah Menangani Tanda-tanda Intoleransi Laktosa pada Anak
Langkah menangani intoleransi laktosa dapat berbeda pada tiap anak. Tetapi pada konsepnya, dokter dan orangtua perlu bekerja bersama agar bisa menangani tanda-tanda intoleransi laktosa pada anak.
Saat sebelum tentukan pengatasan yang akan diberi, dokter umumnya akan menyaksikan umur dan kisah kesehatan anak. Disamping itu, dokter akan cari tahu secara detil toleransi anak pada obat atau therapy tertentu.
Anak yang alami intoleransi laktosa dianjurkan untuk menghindar produk dari olahan susu. Walau sebenarnya produk buatan susu memiliki kandungan kalsium, protein, dan vitamin D yang diperlukan untuk perkembangan anak.
Karena itu, supaya Sang Kecil tidak kekurangan konsumsi gizi itu, dokter umumnya akan merekomendasikan Bunda untuk memberi yoghurt dan keju yang lebih gampang diolah dibanding susu.
Kecuali yoghurt dan keju, Bunda dapat memberi Sang Kecil makanan yang tidak memiliki kandungan laktosa tetapi kaya kalsium, seperti brokoli, sayur kubis, juice jeruk, dan kacang kedelai.